Nama : Erhan Oressa
NIM : 16713142
Fakultas : Fakultas Teknologi Industri
Hari ini, kami kedatangan tamu Bapak Mentri Perdagangan
untuk memberikan materi dalam acara seminar dalam kegiatan OSKM ITB. Bapak Gita
Wirjawan bercerita tentang semangat kemahasiswaan yang harus selaras dengan
kearifan lokal. Beliau menyebutkan bahwa semangat kemahasiswaan harus membawa
Indonesia ke kemerdekaan yang sesungguhnya dengan cara memajukan perekonomian
daerah agar kita tidak dijajah oleh perekonomian internasional . Indonesia
memang banyak sekali mengkonsumsi barang-barang dari luar negri, dan
mengabaikan barang-barang asli Indonesia. Beliau berpesan agar kita sebagai
calon penerus bangsa harus mengGarudakan diri sendiri dengan cara mengkonsumsi
barang-barang lokal daripada konsumsi barang asing. Beliau juga menjelaskan
tentang kesenjangan yang ada di Indonesia harus diminimalisir dengan cara menanam
investasi di pulau-pulau di luar pulau Jawa, juga tentang multiplikasi nilai
hingga membutuhkan investasi di hilir. Sehingga harus dibangun pendidikan dan
pendanaan agar hilirisasi dapat berlangsung. Beliau juga akhirnya berpesan
"Jadilah Garuda-Garuda yang kreatif, terampil, dan melek teknologi dengan
semangat kebangsaan selalu menjunjung kearifan lokal. Selain paparan dari Bapak
Gita Wirwajan, kami juga mendapatkan banyak info dari kakak-kakak Wanadri dan
Kak Saska. Kakak-kakak Wanadri menjelaskan tentang keindahan pelosok Indonesia
dan juga perlunya menjaga kelestarian wilayah Indonesia, sementara Kak Saska
bercerita tentang Riset Indienya.
Ibu Tri Mumpuni, seorang pemberdaya listrik di
Indonesia juga turut menjadi narasumber yang membawa judul Integritas &
Kompetensi Pemuda(Alumni ITB) untuk Kemandirian dan Kesejahteraan Bangsa.
Integritas dan kompetensi artinya harus memiliki Logika dan Empati agar dapat
membaca nasionalisme dengan baik, tidak hanya untuk diri sendiri. Banyak anak
di Indonesia tidak mendapatkan hak untuk meraih mimpi. Alasannya adalah Ekonomi
yang berlaku saat ini adalah ekonomi yang berdefinisi bahwa perekonomian yang
baik adalah yang semakin tinggi pertumbuhannya, tidak memperhatikan kepentingan
kesejahteraan lokal dan daya dukung lingkungan. Sistem tersebut diucapkan
sebagai sestem yang tidak manusiawi. Sementara itu, seharusnya kita membangun kewirausahaan
sosial yang artinya semakin baik hasil mereka, semakin baiklah ekonominya.
Sehingga menciptakan keadaan kehidupan jutaan manusia yang melakukan
sebaik-baiknya kegiatan yang disukainya. Untuk memperbaiki itu semua diperlukan
perubahan tentang perbaikan visi pembangunan, perubahan paradigma investasi,
dan pembatasan pertumbuhan usaha. Sehingga beliau berpesan agar kami tidak
hanya memperhatikan materi pendidikan formal, juga harus pro lingkungan dan
masyarakat lokal.

0 komentar:
Posting Komentar